Adam dan Hawa Serakah?

Di dalam al-Qur’an, Allah Swt. menceritakan peristiwa penciptaan dan penurunan Adam as. ke dunia dalam tiga sura: al-Baqarah [2]: 35-36; al-A’raf [7]:20; Tha Ha [20]:115.
Ketika Membaca dan memahami ayat ini dituntut untuk ketelitian, kejelian dan ketegasan. Karena secara sekilas dapat menjustifikasikan Adam as. dan Hawa sebagai penyebab kebaradaan kita di dunia ini, disebabkan kesalahannya memakan buah terlarang, atau bahkan menuduh mereka berdua sebagai penyebab utama kita mudah menerima penyakit hati dan terpedaya oleh godaan setan. Pemahaman seperti itulah yang menjangkit dalam pemikiran Muhammad Djarot Sensa, sebagaimana dicoretkannya lewat bukunya, La Takhaf Wa La Tahzan (Jalan Kebahagian Dalam konsepsi al-Qur’an).

Dalam buku tersebut, Djarot Sensa berpendapat ada empat kesalahan fatal Adam as. dan Hawa dari memakan buah khuldi, sehingga membekas pada diri manusia hingga saat ini:

Pertama, kata dia, Adam dan Hawa memiliki sifat untuk melakukan pelanggaran. Terlihat dari perilaku mereka berdua memenuhi perintah dan larangan Allah.

Kedua, Adam dan Hawa memiliki sifat rakus dan serakah. Terbukti dengan melakukan pelanggaran terhadap ayat ’jangan mendekati pohon itu’, bahkan memakan buahnya.

Ketiga, Adam dan Hawa memiliki krakteristik cenderung kepada maksiat, sehingga begitu mudah dibisikkan pikiran jahat oleh setan.

Keempat, Adam dan Hawa dinilai lalai oleh Allah Swt. dan cenderung memiliki sifat buruk lainnya.

Pemahaman yang dikemukan Djarot sensa merupakan pemahaman yang keliru dikarenakan kurang jeli dan telitinya dalam memahami firman Allah Swt. pada tiga surat tersebut. Bahkan, pemahaman seperti itu dapat merusak akidah jika tidak diklarifikasi.

Secara garis besar, jika benar gagasan yang dikemukan Djarot sensa, tentu akan menimbulkan kesan negatif terhadap Allah Swt., dikarenakan telah salah memilih nabi. Maha Suci Allah dari kesalahan dalam menentukan, memilih dan memperbuat. Sangat mustahil sekali jika rasul yang dipilih oleh Allah Swt. memiliki catat dan derajat yang hina.
Sebagaiman kita ketauhi, bahwa para Rasul Allah itu maksum, terbebas dari dosa. Di samping itu, mereka juga wajib memiliki sifat amanah. Yaitu, sifat mentaati apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. untuk disampaikan dan dilakukan serta menjauhi apa yang dilarang-Nya..Jadi, sejatinya, Adam as. dan Hawa ketika itu tidak melakukan pelanggaran.
Karena Allah Swt. mengatakan bahwa meraka saat itu dalam keadaan lupa terhadap larangan-Nya ”Dan Sesunguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, Maka ia lupa dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat,”(QS. Tha Ha [20]:115).
Apakah orang lupa dikategorikan sebagai pelaku pelanggaran dalam hukum syar’i (Islam)? Tidak ada satu pun firman Allah Swt. ataupun hadits Nabi Saw. yang menyatakan bahwa orang lupa dikategorikan sebagai orang bersalah.Maka, sangat ironis sekali apa yang dikatakan Djarot sensa bahwa Adam dan Hawa serakah, cenderung berbuat maksiat dan memiliki sifat buruk lain. Sehingga, seolah-olah, manusia, setelah Adam as dan Hawa, menerima sifat warisan yang buruk dari mereka berdua.
Hanya Adam as dan Hawa saja yang merasa dirinya telah melakukan perbuatan dosa. Padahal, tidak ada satu pun ayat Allah yang menyatakan bahwa Adam as. melakukan perbuatan dosa. Tak pelak lagi, apa yang dikatakan Djarot sensa benar-benar keliru dan merusakkan akidah. Kalau diteliti, pengakuan Adam as. yang merasa dirinya telah melakukan perbuatan dosa merupakan warisan sifat terpuji yang harus kita contoh. Karena kita, dapat dipastikan, selalu lupa dengan Allah Swt, tapi rajinkah kita memohon ampun atas kelupaan itu? Seharusnya kita malu kepada Adam as yang dilupakan oleh Allah Swt. sehingga memakan buah terlarang, namun begitu bersungguh-sungguhnya dia memohon ampun kepada Allah Swt. disebabkan kelupaannya tersebut.
Marilah kita perbaiki pemahaman kita khusunya tentang diri Adam as.. Karena dia adalah rasul Allah yang mulia, terbebas dari dosa. Dan marilah kita kontrol penggunaan karunia Allah Swt, akal dan nafsu, yang dapat menentukan posisi kita di hadapan Allah Swt. Wa Allah

Muwafîq. Penulis adalah Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Fakultas Syariah Islamiyah, Tk. III, dan Dewan redaksi buletin GENERASI Kairo, Mesir periode 2005-2006.

Tidak ada komentar:

zwani.com myspace graphic comments